Minggu, 13 September 2015

Tiga Serangkai dari Menteng 31, Jangan Pernah Melupakan Mereka.


Tiga Serangkai dari Menteng 31. Kita mungkin telah melupakan 3 pemuda militan yg dijuluki Tiga Serangkai dari Menteng 31. Kita seolah menafikan keberadaan mereka beserta para pemuda yang ada dibelakang mereka. Sejarah seolah ingin menghapus keberadaan dan peranan mereka yang sangat vital dalam menentukan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Ingatlah selalu, tanpa mereka Indonesia tidak akan pernah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Tanpa mereka mungkin kemerdekaan Indonesia cuma ada dalam angan-angan. Janji Jepang hanyalah janji belaka. Sebagai pihak yang kalah perang mungkin Jepang lebih mematuhi permintaan sang pemenang dibanding memenuhi janji kepada para pengkhianat bangsa yang masih setia menunggu "Hadiah Kemerdekaan" yang pernah mereka janjikan.


Berikut adalah profil dari ketiga pemuda yang dijuluki Tiga Serangkai dari Menteng 31.

SUTAN SYAHRIR, Lahir 5 Maret 1909 di Padang Panjang, Sumatera Barat.

St Syahrir lahir dari pasangan Mohammad Rasad gelar Maharaja Soetan bin Soetan Leman gelar Soetan Palindih dan Puti Siti Rabiah yang berasal dari Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat. Ayahnya menjabat sebagai penasehat sultan Deli dan kepala jaksa (landraad) di Medan. Syahrir bersaudara seayah dengan Rohana Kudus, aktivis serta wartawan wanita yang terkemuka.

St. Syahrir dikenal sebagai Pejuang kemanusian, diplomat ulung, demokrat sejati.
Perdana Menteri Pertama di Republik Indonesia yg mampu menempatkan Indonesia  sbg Negara Jajahan Pertama yg masuk dalam Agenda Sidang Dewan Keamanan PBB. Kepiawaian diplomasi St Syahrir patut diacungi jempol. Peranan dan loby politiknya mampu memasukan Indonesia yang waktu itu masih dalam jajahan Belanda kedalam agenda yang akan dibahas di Dewan Keamanan PBB. 

Aksi sosial Syahrir kemudian menjurus jadi politis. Ketika para pemuda masih terikat dalam perhimpunan-perhimpunan kedaerahan, pada tanggal 20 Februari 1927, Syahrir termasuk dalam sepuluh orang penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesiƫ. Perhimpunan itu kemudian berubah nama jadi Pemuda Indonesia yang menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia. Kongres monumental yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 1928.

Syahrir meninggal dunia di Zurich, Swiss, tanggal 9 April 1966 dengan status TAHANAN POLITIK mantan teman seperjuangannya sendiri, Soekarno. (mirip dgn Kematian Sukarno, dipenjara tanpa pernah diadili, obat yg dibuang, dirawat seadanya lalu mati dgn Status Tahanan Politik).
Hatta, sahabat seperjuangannya dalam pidato perpisahan di TMP Kalibata menegaskan bahwa 

Perdana Menteri Termuda di Dunia (mungkin sampai saat ini rekor itu masih di tangan Syahrir) ini meninggal karena KORBAN TIRANI : “Sutan Syahrir yang mengandung dalam kalbunya cita-cita besar itu, hidupnya hanya berjuang, menderita dan berkorban untuk menciptakan, supaya rakyat Indonesia merdeka dari segala tindasan. Ia meninggal dengan tiada mencapainya. Ia berjuang untuk Indonesia Merdeka, melarat dalam perjuangan Indonesia Merdeka, ikut serta membina Indonesia Merdeka, tapi ia sakit dan meninggal dunia dalam tahanan Republik Indonesia yang Merdeka”.

Pesan Jenderal Sudirman pada saat-saat terakhirnya pada Sultan Hamengku Buwono IX, “Jangan lupakan Syahrir. Berjuanglah bersama dia, untuk cita-cita Indonesia”.





St Syahrir sang pahlawan besar, tragis harus mengakhiri lakon hidup yang fantastis sebagai tahanan dari negeri yang diperjuangkannya justru dilakukan oleh teman seperjuangannya sendiri yg dia dukung dgn segenap jiwanya.

CHAERUL SALEH, lahir 13 September 1916, Sawah Lunto, Sumbar.

Chaerul Saleh adalah Tokoh Penting dalam persiapan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bersama St Syahrir & Sukarni beserta para pemuda militan lainnya dari Menteng 31 menculik & memaksa Sukarno – Hatta untuk segera mengumumkan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Chaerul Saleh, Sukarni dan St Syahrir dijuluki sebagai Tiga Serangkai dari Menteng 31. Mereka mendapat julukan tersebut dikarenakan mereka sering berkumpul dan berdiskusi tentang situasi Indonesia disebuah asrama pemuda dijalan Menteng yang bernomor 31. Mereka bukan termasuk tokoh pergerakan yang mau bekerjasama dengan pemerintahan colonial Jepang. Mereka melakukan kegiatan secara sembunyi-sembunyi menghindari tentara Jepang.

Chaerul Saleh menempuh pendidikan SR (Sekolah Rakyat) di Medan dan diselesaikannya di Bukittinggi (1924-1931). Setelah tamat ia melanjutkan ke HBS (Hogere Burger School) bagian B di Medan dan diselesaikannya di Jakarta (1931-1937). Melanjutkan lagi ke Fakultas Hukum di Jakarta (1937-1942). Menjabat Ketua Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia (1940-1942), dan setelah Jepang masuk jadi anggota dari panitia Seinendan, membentuk Barisan Banteng, dan anggota PUTERA dan Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Ir. Soekarno. Selanjutnya ia menjadi wakil ketua pada Gerakan Angkatan Baru dan Pemuda. Bersama-sama dengan temannya turut aktif dalam persiapan proklamasi kemerdekaan RI.

Ketika terjadi Agresi Militer II Chairul Saleh turut bersama Divisi Siliwangi melakukan Long March dari Yogyakarta ke Karawang dan Sanggabuana. Akhirnya ia bergabung dengan Divisi Tentara Nasional 17 Agustus di bawah pimpinan Letnan Kolonel Wahidin Nasution, setelah di bawah pimpinan Mayor Sambas Atmadinata. Oleh karena tidak setuju dengan adanya KMB, Chairul Saleh dari Jakarta melarikan diri ke Banten bersama anggota kesatuan lainnya yang menyebabkan terjadinya Peristiwa Banten Selatan. Bulan Februari 1950-1952 ia dipenjara karena dianggap sebagai pelanggar hukum Pemerintah RI, setelah bebas melanjutkan sekolah di Fakultas Hukum Universitas Bonn di Jerman Barat (1952-1955). Di sini, ia menghimpun para pelajar Indonesia dan mendirikan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI)

Tanggal 8 Februari 1967 ia meninggal dunia. Untuk mengenang jasanya di bidang kemiliteran, pangkat terakhir yang diperoleh adalah Jenderal Kehormatan TNI AD, sedangkan bintang jasa yang diperoleh antara lain Bintang Gerilya, Satyalencana Peristiwa Aksi Militer II, Satyalencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan, Bintang Mahaputra Tingkat III, Satyalencana Satya Dharma, Lencana Kapal Selam RI, dan Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Kemasyarakatan dari Universitas Hasanuddin.

SUKARNI KARTODIWIRJO, lahir 14 Juli 1916, Blitar, Jawa Timur.

Sukarni Kartodiwirjo memang tidak memegang peranan sentral dalam perjuangan kemerdekaan, namun peranannya sangat menentukan detik-detik proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945. Indonesia mungkin tak akan pernah memproklamasikan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945, jika tidak ada Sukarni. Ia bersama dua rekannya yang dijuluki Tiga Serangkai dari Menteng 31 beserta para pemuda yang ada dibelakang mereka menculik Soekarno – Hatta dan memaksa kedua pemimpin itu menyatakan bahwa Indonesia sudah merdeka.

Saat itu Sukarni yang mewakili generasi muda merasa gerah dengan sikap wait and see yang dipilih Bung Karno dan Bung Hatta menyikapi menyerahnya Jepang terhadap Sekutu. Kelompok anak muda itu kemudian menculik Soekarno – Hatta ke Rengasdengklok, Jawa Barat. Setelah ide memanfaatkan vacuum of power untuk menyatakan kemerdekaan disetujui, maka kedua pemimpin tersebut dibebaskan kembali ke Jakarta untuk memimpin rapat penyusunan teks proklamasi.

Sukarni lahir di Blitar tahun 1916. Ia adalah aktivis militan yang pantang berkompromi. Masa kecilnya diwarnai dengan berbagai perkelahian dengan anak-anak Belanda. Hampir setiap hari, anak pedagang sapi ini menantang berkelahi sinyo-sinyo Belanda. Ketidaksukaannya terhadap penjajah rupanya merupakan pengaruh gurunya, Moh. Anwar yang berasal dari Banyumas, pendiri Mardisiswo sekaligus tokoh pergerakan Indonesia.

Perkenalan Sukarni dengan dunia pergerakan nasional yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dimulai ketika usia masih remaja, 14 tahun, saat dia masuk menjadi anggota perhimpunan Indonesia Muda tahun 1930. Semenjak itu dia berkembang menjadi pemuda militan dan revolusioner. Selain itu ia juga sempat mendirikan organisasi Persatuan Pemuda Kita.

Tahun 1934 Sukarni berhasil menjadi Ketua Pengurus Besar Indonesia Muda, sementara itu Belanda mulai mencurigainya sebagai anak muda militan. Tahun 1936 pemerintah kolonial melakukan penggerebekan terhadap para pengurus Indonesia Muda, tapi Sukarni sendiri berhasil kabur dan hidup dalam pelarian selama beberapa tahun.

Setelah menculik dan memaksa Soekarno – Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI, Sukarni juga aktif dalam berbagai episode perjuangan. Tokoh revolusioner pemberani ini berperan besar dalam perjalanan parlemen Indonesia. Saat negara masih belia, sehingga belum sempat dilaksanakan Pemilihan Umum, Sukarni mengusulkan agar sebelum terbentuk DPR dan MPR, tugas legislatif dijalankan oleh KNIP. Sukarni pulalah yang memperjuangkan pembentukan Badan Pekerja KNIP sebagai lembaga negara yang mewujudkan kedaulatan rakyat sekaligus pemimpin rakyat. Ia kemudian diangkat menjadi anggota DPRD dan Konstituante.

Namun hubungannya dengan Bung Karno tidak mulus. Melalui Partai Murba, Sukarni menentang kebijakan-kebijakan Soekarno. Sikap itu harus dibayar mahal dengan kebebasannya. Sukarni keluar dari penjara setelah Orde Baru berkuasa.

Ia wafat pada 7 Mei 1971 sewaktu menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung RI